You are here

Investasi Perbibitan Ternak

Investasi di sub sektor peternakan baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal  Asing (PMA) selama 6 tahun terakhir berfluktuasi dengan kecenderungan menurun. Kontribusi subsektor peternakan terhadap total investasi di sektor pertanian paling rendah yaitu hanya sebesar 4,6% (2009). Persentase PDB subsektor peternakan juga menurun dari 12,7% (2005) menjadi 12,4% (2009). Kontribusi penyerapan tenaga kerja pada periode yang sama meningkat dari 6,43% menjadi 10,73%. Namun sayangnya Nilai Tukar Peternak (NTP) dalam 2 tahun terakhir ini menurun 105,61 (Desember 2009) turun menjadi 102,80 (Desember 2010). Neraca perdagangan subsektor peternakan terus mengalami defisit dari 651.955 ton (2004) menjadi -429.931 ton (2008) dan lebih memprihatinkan lagi kalau neraca tersebut dilihat dari segi nilainya yaitu -$ 607.638 (2004) menjadi -$ 1.204.049 (2008). Angka defisit tersebut cenderung terus meningkat pada tahun 2009 dan 2010.

Indikator lain yang dapat dijadikan rujukan tentang kecilnya investasi di sub sektor peternakan adalah jumlah perusahaan peternakan di Indonesia. Usaha pembibitan ternak (besar dan kecil) dari tahun 2000 hingga tahun 2009 terus mengalami penurunan dari 59 perusahaan menjadi 20 perusahaan (penurunan sebesar 66,10%). Kecilnya minat investasi di sub sektor peternakan antara lain karena berbagai faktor yaitu (1) investasi yang dibutuhkan relatif besar, (2) pengembalian modal yang cukup lama, (3) pelaksanaan investasi dilakukan secara bertahap dan jangka waktunya lebih lama, (4) biaya transaksi institusi Pemda, (5) retribusi yang rumit dan retribusi antar wilayah, (6) promosi investasi rendah.

Salah satu daya tarik investasi sangat tergantung pada penghargaan terhadap investasi, seperti 1) pemberian tax holiday, insentif litbang, pemberian modal, dan pemberian pelatihan, namun iklim yang kondusif lebih diperlukan daripada insentif khusus, walaupun insentif khusus akan berjalan lebih baik manakala didukung prasarana yang baik, seperti investasi transportasi angkutan ternak, 2) promosi citra lokasi investasi yang menguntungkan.

Dalam upaya membuka peluang investasi dan peluang pasar di bidang peternakan serta mendorong minat investor untuk usaha perbibitan adalah meningkatkan peran swasta melalui serangkaian kebijakan investasi dan permodalan dan potensi pengembangan wilayah sumber bibit di indonesia. Adapun langkah-langkah tersebut : 1) Peraturan BKPM nomor 52/tahun 2011 tentang  fasilitasi pajak penghasilan untuk penanaman modal pada bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu; 2) upaya kebijakan pemerintah daerah yang efektif melalui kemudahan perijinan berusaha, biaya transaksi yang rendah, promosi investasi daerah sesuai potensi wilayah ke investor domestik dan asing; 3) Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/9/2011 tentang pewilayahan sumber bibit; 4) Permenkeu Nomor 241/2011 tahun 2011 dan Permentan Nomor 12/2012 tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS).

Guna mendukung hal tersebut di atas, diperlukan adanya data dan informasi tentang potensi dan peluang investasi di masing-masing wilayah, maka dipandang perlu untuk dilakukan inventarisasi data dan informasi investasi perbibitan ternak (@gyt.anto)

© 2015 - Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak - Ditjen Peternakan dan Keswan - Kementerian Pertanian RI
Jl. Harsono RM. No. 3, Ragunan-Jakarta 12550, Indonesia
Gedung C - Lantai 8 Wing B,Telp: 021-7815781 Fax: 021-7815781
e-mail : bibit@pertanian.go.id | Disclaimer

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer