You are here

Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Balai Inseminasi Buatan Daerah

Senin, 5 Oktober 2015, Direktorat Perbibitan Ternak kembali menyelenggarakan forum pembahasan rancangan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia tentang Penyediaan dan Peredaran Semen Beku Ternak Ruminansia.  Forum yang di fasilitasi melalui kegiatan Koordinasi dan Evaluasi Produksi dan Distribusi Benih Ternak ini dibuka oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak yang diwakili oleh Kepala Subdit Penilaian dan Pelepasan Bibit Ternak yang didampingi oleh Kepala BBIB Singosari.  Peserta yang hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan di Cipayung, Bogor berjumlah lebih dari 45 Orang yang berasal dari BIB Nasional, BET, dan BIBD.  Unsur BIB daerah yang hadir berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan, Lampung, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur.   Sedangkan peserta pusat yang hadir sebanyak 21 Orang.

Saat memberi sambutan dan arahan, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak menyampaikan bahwa : Evaluasi BIBD menunjukkan kondisi sesungguhnya UPT kita, hal ini sebaiknya menjadi pendorong untuk memotivasi peningkatan kinerja kedepannya.  Lebih lanjut dikemukakan :

  • Agar BIBD mengutamakan melayani masyarakat sekitar.
  • Hindari kesamaan produk/layanan dengan UPT lainnya.
  • Usulan dari daerah terkait hibah ternak lokal dari B/BPTU-HPT akan dipertimbangkan sepanjang sesuai aturan.
  • Kaitan pengujian penyakit (PHMS) oleh B/BVET akan didiskusikan kemudahan pelaksanaannya.

Pada sesi pembahasan rancangan Permentan, tampil sebagai pembahas adalah Kepala Seksi Pelepasan yang didampingi oleh Ibu Triani Hutasoit, SH Kasubbag Perundang-undangan, Biro Hukum dan Humas, Setjen Kementan.  Rancangan Permentan ini intinya memuat aturan mengenai Penyediaan Semen Beku Ternak Ruminansia yang diatur dalam Bab II, serta mengenai peredaran semen beku ternak ruminansia yang diatur dalam Bab III.  Selain kedua aturan pokok ini, rancangan Permentan juga memuat aspek kesehatan hewan yang di atur dalam Bab IV.  Secara keseluruhan, permentan memuat 55 pasal dalam 5 bab.

Rancangan Permentan tentang Penyediaan dan Peredaran Semen Beku Ruminansia ini sudah cukup lama dibahas, pasang surut dan dinamika pembahasan dalam pertemuan membuahkan hasil bahwa rancangan ini masih dimungkinkan dilakukan perubahan meskipun rancangan sudah pernah diajukan hingga ke Menteri Pertanian.  Pada prinsipnya penambahan substansi dari rancangan Permentan masih diperbolehkan.  Konsekuensi logis dari penerapan peraturan ini adalah kewajiban produsen semen beku untuk menghasilkan/menyediakan semen beku.  Dilain pihak, produsen juga dapat dikenakan sanksi apabila tidak mematuhi aturan yang telah ditetapkan.  Merujuk diskusi yang berkembang dalam pembahasan, ternyata produsen semen beku di daerah masih terhambat dalam meningkatkan produksi semen beku sapi lokal.  Hal ini terjadi karena peternak masih tertarik menggunakan semen sapi eksotik dengan harapan mereka akan memperoleh hasil IB yang bernilai jual tinggi.

Selain itu, daerah tampak masih kesulitan untuk memenuhi dan mengikuti aturan yang ada dalam Permentan.  Diusulkan agar aturan juga dapat mengakomodasi kepentingan dan keterbatasan daerah dalam menyediakan dan mengedarkan semen beku ternak ruminansia (BPX).

Foto Galeri: 

© 2015 - Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak - Ditjen Peternakan dan Keswan - Kementerian Pertanian RI
Jl. Harsono RM. No. 3, Ragunan-Jakarta 12550, Indonesia
Gedung C - Lantai 8 Wing B,Telp: 021-7815781 Fax: 021-7815781
e-mail : bibit@pertanian.go.id | Disclaimer

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer